TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM PPAT DALAM PEMBUATAN AKTA JUAL BELI ATAS TANAH BERSERTIFIKAT YANG MENJADI OBJEK SENGKETA (STUDI PADA KANTOR NOTARIS & PPAT ANGGAMERTO HD., S.H., M.Kn. TERKAIT PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SERANG NOMOR 119/Pd

Authors

  • Daffa Kautsar Universitas Bina Bangsa
  • Iron Fajrul Aslami Universitas Bina Bangsa
  • Safiulloh Universitas Bina Bangsa

DOI:

https://doi.org/10.23969/jp.v11i3.67189

Keywords:

Land Deed Official, Sale and Purchase Deed, Legal Responsibility, Land Dispute, Prudential Principle

Abstract

The transfer of land rights through sale and purchase is a legal act that requires legal certainty and protection for the parties involved. In the process of transferring land rights, the Land Deed Official (Pejabat Pembuat Akta Tanah/PPAT) has an important role as a public official authorized to prepare Sale and Purchase Deeds (Akta Jual Beli/AJB) as the basis for land registration. However, in practice, certified land may still become an object of dispute, raising legal issues regarding the extent of PPAT’s legal responsibility for the deed that has been prepared. This study aims to analyze the legal responsibility of PPAT in preparing Sale and Purchase Deeds for certified land that becomes the object of dispute and to examine the application of the prudential principle in carrying out PPAT’s authority based on Serang District Court Decision Number 119/Pdt.G/2023/PN.Srg. This research uses a normative juridical method with a statutory approach and a case approach. The primary legal materials consist of laws and regulations related to PPAT authority and Serang District Court Decision Number 119/Pdt.G/2023/PN.Srg, supported by interview data with PPAT practitioners. The results show that PPAT’s legal responsibility is carried out through the proper implementation of official duties, including verifying the identities of the parties, completeness of documents, validity of land certificates, legal status of land, and other administrative requirements. The occurrence of a dispute over land for which a Sale and Purchase Deed has been prepared does not automatically result in PPAT’s responsibility, as long as the PPAT has performed its authority and obligations in accordance with applicable legal provisions and applied the prudential principle. Therefore, PPAT’s legal responsibility is determined based on the existence of errors, negligence, or violations of official duties in the process of preparing the deed.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adjie, H. (2013). Kebatalan dan pembatalan akta notaris. Bandung: Refika Aditama.

Arba, H. M. (2015). Hukum agraria Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

Azwardi, & Arum, M. (2022). Prinsip kehati-hatian dalam pembuatan akta otentik oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Jurnal Kewarganegaraan, 6(3), 5465–5473.

Bafarirahman, M., & Hartanto, J. A. (2017). Tanggung gugat Pejabat Pembuat Akta Tanah terhadap prinsip kehati-hatian dalam pembuatan akta jual beli. Al-Qānūn: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam, 20(2), 207–230.

Harsono, B. (2008). Hukum agraria Indonesia: Sejarah pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, isi dan pelaksanaannya. Jakarta: Djambatan.

Isnaini, H., & Wanda, H. D. (2018). Prinsip kehati-hatian Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam peralihan tanah yang belum bersertifikat. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, 24(3), 467–487.

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum. Jakarta: Kencana.

Mertokusumo, S. (2009). Penemuan hukum: Sebuah pengantar. Yogyakarta: Liberty.

Resvina, A. V. (2024). Prinsip kehati-hatian Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam pembuatan akta jual beli berkaitan dengan alas hak dan keterangan palsu. Jurnal Cahaya Mandalika, 3(3), 1858–1873.

Sakinah, B., & Suwondo, D. (2023). Tanggung jawab Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam pembuatan akta jual beli tanah beserta akibat hukumnya. Jurnal Ilmiah Sultan Agung.

Sjaifurrachman, & Adjie, H. (2011). Aspek pertanggungjawaban notaris dalam pembuatan akta. Bandung: Mandar Maju.

Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Jakarta: Rajawali Pers.

Supriadi. (2016). Hukum agraria. Jakarta: Sinar Grafika.

Suredja, S. E., & Suparjo. (2022). Pertanggungjawaban Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam pembuatan akta jual beli terkait adanya sertifikat palsu (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2046 K/Pdt/2018). Pakuan Law Review, 8(2), 1–15.

Umakaapa, A. R. (2022). Kedudukan dan tanggung jawab hukum PPAT terhadap akta jual beli tanah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. Lex Administratum, 10(3), 1–10.

Wiharjo, V. J., Nurhayati, E., & Fakhriah, E. L. (2024). Pertanggungjawaban hukum Pejabat Pembuat Akta Tanah yang membuat akta jual beli berdasarkan akta kuasa palsu secara administratif dan perdata. Acta Diurnal Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan, 7(2).

Peraturan Perundang-undangan

Republik Indonesia. (1960). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

Republik Indonesia. (1997). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Republik Indonesia. (1998). Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembinaan dan Pengawasan terhadap Pejabat Pembuat Akta Tanah.

Downloads

Published

2026-09-09