PELESTARIAN TARI RANTAK BAWAK DI NAGARI BUKIK LIMBUKU KABUPATEN LIMAPULUH KOTA

Authors

  • Dwi Gusriani Institut Seni Indonesia Padang Panjang
  • Adjuoktoza Rovylendes Institut Seni Indonesia Padang Panjang

DOI:

https://doi.org/10.23969/jp.v11i03.60128

Keywords:

Conservation, Preservation, Reservation, Development

Abstract

This Rantak Bawak Dance was originally known as Ratok Bawak, a dance that originated from the traditional of a king’s death ceremony in nagari Bukik Limbuku Limapuluh Kota Regency. Then, this traditional has developed into a performing art because the descendants of the king have become extinct. Bawak is a dance property made of dried cowhide to form a swap and the dancers move on the cowhide while stamping their feet, therefore this dance is called the Rantak Bawak dance. This reserch aims to explain the preservation and Development of Rantak Bawak dance in nagari Bukik Limbuku Limapuluh Kota Regency. The research method used is qualitative date obtained through interviews, observations and documentation.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Buku :

Asril, dkk. (2025). Pengembangan seni tradisi Minangkabau. Padangpanjang, Indonesia: Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Bungin, B. (2013). Metodologi penelitian sosial dan ekonomi. Jakarta, Indonesia: Kencana.

Burra Charter. (1982). The Australia ICOMOS charter for the conservation of places of cultural significance. Australia: Australia ICOMOS.

Hadi, Y. S. (2007). Kajian tari: Teks dan konteks. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Book Publisher.

Hadi, Y. S. (2011). Koreografi: Bentuk, teknik, isi. Yogyakarta, Indonesia: Cipta Media.

Sedyawati, E. (1981). Pertumbuhan seni pertunjukan. Jakarta, Indonesia: Sinar Harapan.

Sedyawati, E. (2008). Keindonesian dalam budaya. Jakarta, Indonesia: Wedatama Widya Sastra.

Soedarsono. (1977). Tari-tarian Indonesia I. Jakarta, Indonesia: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan.

Soedarsono. (1986). Pengantar pengetahuan dan komposisi tari. Yogyakarta, Indonesia: Akademi Seni Tari Indonesia.

Soedarsono. (1999). Metodologi penelitian seni pertunjukan dan seni rupa. Bandung, Indonesia: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Artikel in Press :

Adzafebrian, S. (2025). Pelestarian tari Piriang di Ateh Kaco di Nagari Bayua Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam (Unpublished undergraduate thesis). Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Padangpanjang, Indonesia.

Putri, Y. D. (2024). Kreatifitas masyarakat Jorong Sampu dalam upaya pelestarian tari Indang Tagak Nagari Lubuak Gadang Utara Kecamatan Sangir Kabupaten Solok Selatan (Unpublished undergraduate thesis). Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Padangpanjang, Indonesia.

Jurnal :

Anggraini Oktari. (2013). Tari Rantak Bawak dari ritual ke seni pertunjukan. Jurnal Seni Pertunjukan.

Hadi, F., & Yuwanti, S. (2022). Peran pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian tari tradisional. Jurnal Kebudayaan Indonesia.

Ilham Kamaruddin, dkk. (2023). Pengembangan tari tradisional melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Jurnal Seni dan Budaya Indonesia.

Nurwani. (2020). Kreatifitas masyarakat yang menjadikan seni pertunjukan ritual: Transformasi makna Ratok Bawak pada masyarakat Minangkabau Indonesia. Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia.

Tiaranisa, A. Z., dkk. (2022). Preservasi dan reservasi dalam pelestarian seni tradisional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.

Downloads

Published

2026-07-10