REKONSTRUKSI EKSISTENSIALISME DAN STOISISME: KAJIAN FILSAFAT SELF-MANAGEMENT UNTUK MENGATASI PERILAKU MEMBOLOS SISWA PESISIR TUBAN

Authors

  • Ngampuni Universitas negeri Surabaya
  • Wiryo Nuryono Universitas negeri Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.23969/jp.v11i02.49157

Keywords:

Self-Management, Membolos, Siswa Pesisir, Tuban, Eksistensialisme, Stoisisme

Abstract

Perilaku membolos (truancy) merupakan permasalahan klasik dalam dunia pendidikan, namun menjadi kompleks ketika terjadi pada konteks geografis dan sosial-budaya tertentu, seperti siswa di daerah pesisir Tuban, Jawa Timur. Fenomena ini seringkali dipahami secara parsial sebagai pelanggaran disiplin semata, padahal hakikatnya adalah krisis kedirian (self) dan kegagalan manajemen diri (self-management) dalam menavigasi tarikan antara kewajiban akademik dan realitas ekonomi-kultural lingkungan pesisir. Artikel ini mengkaji "Self-Management untuk Mengatasi Perilaku Membolos Siswa Pesisir" melalui pisau bedah filsafat. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika fenomenologis, artikel ini mendeskripsikan ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari self-management. Tokoh-tokoh filsafat seperti Jean-Paul Sartre (Existensialisme), Immanuel Kant (Deontologi), Epictetus (Stoisisme), dan John Dewey (Pragmatisme) dihadirkan untuk membangun landasan filosofis ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa membolos pada siswa pesisir Tuban bukan sekadar determinisme lingkungan, melainkan bentuk bad faith (kefasikan) di mana siswa menyerahkan kebebasannya pada faktor eksternal. Self-management yang diajarkan bukanlah teknik manajerial kapitalistik, melainkan sebuah proyek eksistensial untuk mencapai otonomi diri, didukung oleh temuan-temuan empiris dari jurnal terakreditasi SINTA dan Scopus yang membuktikan efektivitas regulasi diri di daerah pesisir.

Downloads

Download data is not yet available.

References

1. Aristoteles. (1999). Nicomachean Ethics (Terjemahan). Hackett Publishing.

2. Dewey, J. (1916). Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education. New York: Macmillan.

3. Epictetus. (2008). Discourses and Selected Writings (Terjemahan Robert Dobbin). Penguin Classics.

4. Husserl, E. (1970). The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology. Northwestern University Press.

5. Kant, I. (1964). Groundwork of the Metaphysics of Morals (Terjemahan H.J. Paton). Harper & Row.

6. Sartre, J. P. (1993). Being and Nothingness (Terjemahan Hazel E. Barnes). Washington Square Press.

7. Schutz, A. (1967). The Phenomenology of the Social World. Northwestern University Press.

Jurnal Ilmiah Terakreditasi SINTA & Terindeks SCOPUS:

8. Arifin, Z., & Saefudin. (2021). Philosophical roots of coastal education: Integrating local wisdom and self-determination in maritime context. Journal of Philosophy of Education [Scopus Q3].

9. Pratama, H., & Suharno, S. (2020). Konstruksi Sosial Perilaku Siswa Pesisir: Antara Kewajiban Sekolah dan Logika Ekonomi Keluarga. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 27(2), 145-159. [SINTA 3].

10. Rahmawati, D., et al. (2021). Peran Self-Regulated Learning terhadap Resiliensi Akademik Siswa di Wilayah Pesisir. Jurnal Bimbingan Konseling, 10(1), 33-45. [SINTA 2 - LPPM Unesa].

11. Susanto, B., et al. (2022). Model Intervensi Psikologis Berbasis Self-Management pada Siswa Berisiko Putus Sekolah di Daerah Pantai Utara Jawa. Jurnal Manajemen Pendidikan, 11(3), 112-125. [SINTA 2].

12. Widiyanti, & Kusuma, D. (2019). Coastal students’ resilience and academic engagement: The moderating role of self-efficacy. International Journal of Instruction, 12(4), 811-826. [Scopus Q2].

Downloads

Published

2026-06-22