KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DALAM PAPPASENG KAJAO LALIDDO: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
DOI:
https://doi.org/10.23969/jp.v11i02.46598Keywords:
Kajao Laliddo, Characteristics, LeadershipAbstract
Penelitian bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk tanda yang merepresentasikan karakteristik kepemimpinan dalam teks tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain deskriptif, serta analisis semiotika Roland Barthes untuk mengungkap struktur tanda pada tingkat denotasi dan konotasi. Data diperoleh melalui teknik telaah pustaka, simak-catat, dan reflektif-introspektif, kemudian divalidasi dengan triangulasi. Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tanda kepemimpinan dalam pappaseng Kajao Laliddo diwujudkan melalui satuan leksikal dan struktur kalimat yang menegaskan nilai-nilai utama kepemimpinan. Pada tataran denotatif, tanda seperti acca (kepintaran) dan lempu (kelurusan/kejujuran) muncul sebagai atribut dasar yang dinominalisasi dan ditempatkan secara hierarkis sebagai fondasi kepemimpinan ideal. Sementara itu, secara konotatif, tanda-tanda tersebut berkembang menjadi kode moral-etis yang mengikat, di mana kecerdasan tidak berdiri sendiri, melainkan harus selaras dengan sistem adat (pangadereng). Selain itu, tanda wari’e merepresentasikan prinsip keadilan yang bersifat kosmik dan normatif. Keseluruhan bentuk tanda ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda karakter individu pemimpin, tetapi juga sebagai konstruksi simbolik yang mengatur legitimasi dan tatanan sosial dalam masyarakat Bugis Bone.
Downloads
References
Amaluddin. (2009). Bentuk, fungsi, nilai, dan strategi pemertahanan tradisi lisan nyanyian rakyat Bugis (Disertasi tidak diterbitkan). Universitas Negeri Malang.
Aminuddin. (2015). Stilistika: Pengantar memahami bahasa dalam karya sastra. CV IKIP Semarang Press.
Amir, A. (2013). Sastra lisan Indonesia. ANDI.
Anshari. (2007). Nilai kemanusiaan dalam sastra lisan sinrilik (Disertasi tidak diterbitkan). Universitas Negeri Malang.
Arifin, A. L. (2021). Syiar kepemimpinan cendekia: Kajian pustaka model kepemimpinan lokal. Media Bina Ilmiah.
Asrofah. (2014). Semiotik mitos Roland Barthes dalam analisis iklan di media massa. Jurnal Sasindo, 2(1). https://journal.upgris.ac.id/index.php/sasindo/article/view/916
Bahar, M. A. (2019). Falsafah hidup orang Bugis (Studi tentang pappaseng Kajao Laliddong di Kabupaten Bone) (Disertasi). UIN Alauddin Makassar.
Bakry, M. (2023). Analisis siri na pacce dalam manuskrip masyarakat Bugis-Makassar. IAIN Nusantara Press.
Barthes, R. (1964). Elements of semiology. Hill and Wang.
Barthes, R. (1988). The semiotic challenge. Hill and Wang.
Barthes, R. (1992). Mitologi. Kreasi Wacana.
Basri, S. Q. (2019). Analisis semiotika Roland Barthes dalam tari Remo (Ngremong). Jurnal Geter, 2(1). https://journal.unesa.ac.id/index.php/geter/article/view/4800
Charles, S. P. (2016). Semiologi: Studi tentang tanda (A. Soekowati, Trans.). YSA Agung Press.
Dahlan, M., et al. (2025). Analisis semiotika pappaseng taoriolo pada masyarakat Bugis-Makassar. JIMU: Jurnal Ilmiah Multi Disiplin, 3(2), 797–802.
Danandjaja, J. (2012). Folklor Indonesia. Pustaka Utama Grafiti.
Danim, S. (2012). Kepemimpinan pendidikan. Alfabeta.
Endraswara, S. (2013). Folklor Nusantara. Ombak.
Fitriani, N., et al. (2021). Fungsi pappaseng toriolo dalam masyarakat Bugis Soppeng. IJSES, 2(2), 202–211.
Haryono, S. R. (2017). Analisis semiotika Roland Barthes dalam iklan Aqua versi “Temukan Indonesiamu”. Acta Diurna, 13(2), 67–88.
Hidayati, W. (2021). Analisis semiotika Roland Barthes dalam film Dua Garis Biru. Jurnal Pendidikan Tematik, 2(1), 53–60.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Cipta.
Koentjaraningrat. (2012). Kebudayaan, mentalitas, dan pembangunan. Gramedia.
Kusuma, P. K. N. (2017). Analisis semiotika Roland Barthes pada ritual Otonan di Bali. Jurnal Manajemen Komunikasi, 1(2).
Mahsun. (2011). Metode penelitian bahasa. Rajawali Pers.
Mardiyah, A. (2013). Kepemimpinan kyai dalam memelihara budaya organisasi. Aditya Media.
Mattulada. (1985). Latoa. Gadjah Mada University Press.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1984). Qualitative data analysis. Sage Publications.
Moein, A. M. G. (1990). Menggali nilai-nilai budaya Bugis-Makassar. Yayasan Mapress.
Moleong, L. J. (2012). Metodologi penelitian kualitatif. Rosda.
Nathaniel, A. (2018). Analisis semiotika makna kesendirian pada lirik lagu “Ruang Sendiri”. Jurnal Semiotika, 9(2).
Nurdiansyah, C., et al. (2022). Representasi budaya Bugis Makassar dalam film Tarung Sarung. Jurnal Media Penyiaran, 2(2).
Nursalim, M. P., & Rima, T. (2018). Analisis semiologi Roland Barthes dalam mantra tukang pijit. Jurnal Dialektika, 5(1).
Pelras, C. (2006). Manusia Bugis. Nalar.
Rawe, B. T. (2020). Makna dan nilai pappaseng dalam lontara Latoa. Jurnal Ilmu Budaya, 8(1), 15–23.
Rusmana, D. (2014). Filsafat semiotika. Pustaka Setia.
Saleh, F., et al. (2023). Interpretasi makna lagu Bugis “Alosi Ripolo Dua”. Jurnal Idiomatik, 7(2). https://doi.org/10.46918/idiomatik.v7i2.2586
Subair, A. (2021). Pappaseng to riolo sebagai pembentuk karakter. Phinisi Integration Review, 4(1), 24–31. https://doi.org/10.26858/pir.v4i1.19217
Sudaryanto. (2015). Metode dan aneka teknik analisis bahasa. Diandra Primamitra.
Sugiyono. (2014). Metode penelitian pendidikan. Alfabeta.
Uliyanah. (2023). Nilai pendidikan moral dalam sastra lisan pappaseng (Tesis). Universitas Tadulako.
Wahyuningsih, S. (2014). Analisis semiotika komunikasi Roland Barthes dalam iklan Samsung. Jurnal Sosio Didaktika, 1(2).
Wulandari, S. (2020). Kajian semiotika Charles Sanders Peirce. Jurnal Titian, 4(1).
Zaim, M. (2014). Metode penelitian bahasa. FBS UNP Press.
Zulkifli, A., et al. (2023). Implementasi nilai-nilai moral pappaseng dalam bimbingan konseling. Al-Ihtiram, 2(1).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.