Analisis Komparatif Konsep Mahar menurut Mazhab Hanafiyah, Undang-Undang Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam

Authors

  • Nasywa Nabilah Nugroho Universitas Islam Negeri Sumatra Utara
  • Ainul Mardhiah Universitas Islam Negeri Sumatra Utara
  • Putri Rahma Universitas Islam Negeri Sumatra Utara
  • Ulfa Safira Soliha Universitas Islam Negeri Sumatra Utara
  • Junaidi Lubis Universitas Islam Negeri Sumatra Utara

DOI:

https://doi.org/10.23969/jp.v10i04.39932

Keywords:

mahar; Mazhab Hanafi; KHI; UU Perkawinan

Abstract

Penelitian ini membahas konsep mahar dalam perspektif Mazhab Hanafi, Undang‑Undang Nomor 1 Tahun 1974, dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia. Mahar dipahami sebagai hak mutlak istri yang wajib dipenuhi suami, berfungsi sebagai simbol penghormatan, tanggung jawab, dan legitimasi akad nikah. Mazhab Hanafi menekankan batas minimal dan bentuk harta, sedangkan regulasi nasional memberikan fleksibilitas dalam bentuk, jumlah, dan kesepakatan kedua pihak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, menganalisis literatur fiqh, UU Perkawinan, dan KHI secara deskriptif-komparatif. Hasil kajian menunjukkan persamaan dalam penekanan hak istri dan kewajiban suami, tetapi terdapat perbedaan konseptual terkait nilai minimal, jenis, dan bentuk mahar. Perbedaan ini berimplikasi pada praktik hukum pernikahan, khususnya dalam penafsiran dan penyelesaian sengketa di pengadilan agama. KHI berperan sebagai instrumen harmonisasi, mengakomodasi prinsip fiqh klasik dan regulasi nasional sehingga mahar tetap menjadi hak istri dan ekspresi tanggung jawab suami tanpa membebani calon pasangan. Penelitian menekankan pentingnya keselarasan antara nilai fiqh dan hukum positif untuk menjamin keadilan, kemudahan, dan perlindungan hak dalam praktik pernikahan di Indonesia.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anshorullah, M., Purqon, A., & Saputra, M. R. S. (2024). Pembatalan perkawinan akibat penyakit obsessive compulsive disorder (OCD) menurut Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanafi. Usroh: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 8(2), 140–157.

Cumeda, C. (2019). Batas minimal mahar: Kajian komparasi antara pendapat Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i. Mozaic: Islam Nusantara, 5(2), 131–150.

Darlius, D. (2024). Keabsahan nikah syigar dan mahar mitsil persepektif Imam Abu Hanifah. AL-MUTSLA, 6(2), 547–574.

Fathulloh, M. R., & Faruq, A. (2024). Mahar cincin dari besi menurut perspektif fiqih dan UU No. 1 Tahun 1974. Journal Sains Student Research, 2(4), 1033–1045.

Hadi, N. (2019). Mahar services (dowry non material) according to Mazhab Imam Hanafi and Mazhab Imam Syafi’i. Indonesian Journal of Islamic Law, 1(1), 82–101.

Hasan, M. R. (2016). Kajian prinsip perkawinan menurut UU No. 1 Tahun 1974 dalam perspektif hukum Islam. Lex Administratum, 4(3).

Hmad Muhammad Mustain Nasoha, D., dkk. (2024). Perspektif Pancasila dalam harmonisasi hukum Islam dan hukum nasional. Dirasah: Jurnal Kajian Islam, 2(1), 40–41.

Lubis, H. S., Sofa, T., & Azzahra, N. F. (2025). Pendapat Imam Mazhab terhadap mahar mitsil bukan merupakan syarat kafa’ah. Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat, 2(2), 11–18.

Lubis, Y. A., Sidek, A., & Lubis, S. (2023). Pembayaran mahar secara cicilan dalam perkawinan menurut pandangan Imam Syafi’i. Journal Smart Law, 2(1), 91–100.

Mangunsong, C. H., & Arfa, F. A. (2023). Urgensi mahar dalam perkawinan perspektif Kompilasi Hukum Islam. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(7), 73–81.

Matondang, M. F. Z., & Akbar, A. (2023). Studi komparatif tentang mahar hafalan Al-Qur’an di kalangan muda menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi. Kabilah: Journal of Social Community, 8(1), 1006–1017.

Murdiana, E., Zulaikha, S., & Mahmudah, N. (2021). Telaah nilai kepastian dan keadilan pada regulasi mahar dalam pembangunan hukum keluarga. Tapis: Jurnal Penelitian Ilmiah, 5(1), 30–44.

Ramadhan, D., & Balqis, F. I. F. (2020). Pandangan Mazhab Hanafi dan Maliki terhadap jumlah kadar mahar pada akad nikah. Jawi, 3(1), 41–58.

Ridwan, M. (2022). Penetapan mahar dalam perspektif hukum Islam. Hukum Islam, 22(1).

Rusydah, A. (2024). Batas minimal mahar dan konsekuensinya dalam Kompilasi Hukum Islam, Madzhab Maliki, dan Hanafi perspektif Maqâshid Al-Syari’ah. Sakina: Journal of Family Studies, 8(1), 79–91. https://doi.org/10.18860/jfs.v8i1.4091

Setyowati, R. (2020). Konsep mahar dalam perspektif Imam Syafi’i dan Kompilasi Hukum Islam. Istidal: Jurnal Studi Hukum Islam, 7(1), 1–15.

Yaqin, M. A., & Tirmidzi, T. (2021). Konsep mahar dalam Kompilasi Hukum Islam: Relevansinya dengan Al Qur’an dan As Sunnah. USRAH: Jurnal Studi Islam, 2(1), 1–10.

Zulaifi, Z. (2022). Konsep mahar menurut pemikiran ulama empat mazhab dan relevansinya di era kontemporer. Qawwam: Journal for Gender Mainstreaming, 16(2), 105–120.

Downloads

Published

2026-01-02