Pembelajaran Seni Randai sebagai Upaya Pelestarian Budaya Minangkabau di Sekolah
DOI:
https://doi.org/10.23969/jp.v10i04.35783Keywords:
Randai, Arts Learning, Cultural Preservation, Minangkabau, EducationAbstract
Randai is a traditional Minangkabau performing art that combines elements of dance, music, drama, and oral literature. This art form serves not only as entertainment but also as a medium for conveying moral, social, and cultural values passed down through generations. In the increasingly strong current of globalization, randai's existence is being threatened by the declining interest of the younger generation in traditional arts. Therefore, teaching randai in schools plays a strategic role in preserving local culture and shaping students' character. This article discusses the importance of teaching randai in schools, its theoretical basis, and the educational values it embodies. Through the integration of randai teaching, schools can play an active role in preserving Minangkabau culture while strengthening the national identity of the younger generation.
Preserving local culture through arts education is a strategic step in maintaining national identity in the era of globalization. Randai, as a traditional Minangkabau art, embodies high social, moral, and aesthetic values and reflects the traditional philosophy of basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. This article is a literature review aimed at examining the implementation of Randai arts learning in schools as an effort to preserve Minangkabau culture. The study was conducted through an analysis of various literature, including scientific journals, books, and research reports, that discuss regional arts learning, local wisdom-based education, and cultural preservation strategies. The results of the review indicate that Randai learning in schools not only enriches students' artistic knowledge and skills but also instills character values such as togetherness, discipline, and responsibility. Furthermore, the integration of Randai into arts and cultural synchronization has proven effective in fostering Minangkabau identity and strengthening the participation of the younger generation in local cultural preservation
Downloads
References
Arifin, M. (2020). Strategi pembelajaran seni budaya berbasis proyek di sekolah menengah. Yogyakarta: UNY Press.
Aziz, R. (2019). Seni tradisional dan tantangan globalisasi. Padang: UNP Press.
Dewantara, K. H. (1936). Pemikiran tentang pendidikan dan kebudayaan nasional. Yogyakarta: Tamansiswa Press.
Dewantara, K. H. (2013). Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka (Pendidikan). Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa.
Fatimah, L. (2021). Pengembangan kurikulum seni berbasis budaya lokal. Jurnal Kurikulum Indonesia, 10(1), 45–58.
Fitri, D. (2020). Makna simbolik dan nilai-nilai pendidikan dalam kesenian Randai Minangkabau. Jurnal Antropologi Indonesia, 41(2), 123–135.
Fitriani, D. (2023). Pembelajaran seni berbasis kearifan lokal. Jurnal Pendidikan Seni Indonesia, 11(1), 23–33.
Fitria, N. (2019). Nilai moral dalam kaba Randai “Cindua Mato.” Jurnal Humaniora, 7(2), 113–121.
Hakim, L. (2020). Kesenian tradisional dalam pendidikan karakter. Bandung: Alfabeta.
Hidayah, S. (2020). Integrasi seni daerah dalam pembelajaran sekolah. Jurnal Citra Budaya, 5(2), 56–68.
Hidayat, R. (2017). Filosofi gerak dalam Randai Minangkabau. Jurnal Seni dan Budaya, 3(1), 12–25.
Indrayani, M. (2019). Peran guru dalam pembelajaran seni tradisional. Jurnal Pendidikan dan Seni, 8(2), 88–97.*
Juliani, D. (2020). Transformasi nilai budaya dalam pembelajaran seni. Jurnal Kajian Pendidikan Seni, 6(3), 102–112.
Kemendikbudristek. (2022). Panduan implementasi Merdeka Belajar berbasis kearifan lokal. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Kerangka kompetensi pembelajaran abad 21. Jakarta: Kemdikbud.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Panduan Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah Menengah. Jakarta: Kemdikbud.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemdikbudristek.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kurniawan, A. (2018). Kearifan lokal dalam pendidikan karakter siswa. Jurnal Pendidikan Nasional, 7(2), 55–67.
Kusuma, P. (2018). Pendidikan karakter melalui seni tradisi. Jurnal Ilmiah Pendidikan, 4(3), 89–98.
Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.
Maulana, H. (2020). Model pembelajaran aktif dalam pendidikan seni. Jurnal Inovasi Edukasi, 12(1), 25–37.
Nasution, A. (2019). Nilai-nilai pendidikan dalam kesenian tradisional Randai Minangkabau. Jurnal Seni dan Budaya, 8(2), 45–56.
Navis, A. A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers.
Ningsih, R. (2019). Sekolah sebagai pusat pelestarian budaya lokal. Jurnal Pendidikan Dasar, 8(1), 33–45.
Nugroho, H. (2021). Pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara di era modern. Yogyakarta: Deepublish.
Nurdin, S. (2018). Makna sosial dalam kesenian Randai. Padang: Andalas University Press.
Piaget, J. (1952). The origins of intelligence in children. New York: International Universities Press.
Pratiwi, R. (2019). Penerapan seni pertunjukan daerah dalam pembelajaran. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Daerah, 4(2), 60–70.
Putra, A. (2020). Nilai edukatif dalam pertunjukan Randai. Jurnal Seni Minangkabau, 6(1), 44–55.
Rahmadani, F. (2023). Integrasi pembelajaran berbasis kearifan lokal dalam pendidikan seni budaya. Jurnal Pendidikan Seni Indonesia, 5(3), 101–115.
Rahmadani, S. (2020). Model pembelajaran kolaboratif dalam pendidikan seni. Jurnal Didaktika, 10(2), 101–112.
Rahman, A. (2022). Kolaborasi sekolah dan komunitas seni. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 12(1), 78–89.
Rahman, F. (2020). Randai sebagai media pembelajaran dan pelestarian budaya lokal Minangkabau. Jurnal Seni dan Pendidikan, 5(2), 45–53.
Rahmawati, D. (2021). Disiplin dan kerja sama dalam Randai. Jurnal Kajian Budaya, 5(3), 65–75.
Ramdhan, F. (2022). Pembelajaran Randai dalam konteks pelestarian budaya. Jurnal Pendidikan Seni Nusantara, 9(1), 23–34.
Read, H. (1943). Education Through Art. London: Faber and Faber.
Rohayati, L. (2022). Pelestarian kesenian tradisional melalui pendidikan formal: Tantangan dan peluang di era digital. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Nusantara, 7(1), 66–79.
Roslina, D. (2021). Revitalisasi seni Randai di kalangan generasi muda. Jurnal Seni dan Tradisi, 7(1), 15–26.
Santoso, J. (2022). Pendidikan karakter melalui aktivitas seni budaya. Jurnal Ilmu Pendidikan, 14(2), 88–99.
Sari, M., & Firdaus, A. (2021). Project-based learning dalam pembelajaran seni budaya. Jakarta: Prenada Media.
Suryani, T. (2020). Pengaruh budaya populer terhadap seni tradisional. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 9(2), 120–130.
Syafrizal, E. (2019). Nilai sosial dalam pertunjukan Randai. Jurnal Budaya Lokal, 4(1), 34–45.
Wagner, T. (2014). The Global Achievement Gap. New York: Basic Books.
Wibowo, T. (2018). Peran seni tradisional dalam pembentukan karakter bangsa. Jurnal Humaniora dan Pendidikan, 5(1), 30–40.
Wulandari, F. (2021). Pembelajaran berbasis kearifan lokal untuk pendidikan karakter. Bandung: Alfabeta.
Yuliani, R. (2021). Tantangan pelestarian seni tradisional di era globalisasi: Studi kasus pada sekolah menengah di Sumatera Barat. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 12(1), 88–97.
Yuliani, S. (2021). Kolaborasi sekolah dan sanggar seni dalam pelestarian budaya. Jurnal Ilmiah Pendidikan, 9(3), 77–88.
Yusuf, M. (2020). Pembelajaran seni berbasis masyarakat. Jurnal Pendidikan Seni Rupa Indonesia, 8(2), 112–123.*
Zainuddin, R. (2020). Implementasi pembelajaran seni di sekolah. Jurnal Inovasi Pendidikan, 5(2), 99–109
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
















